Perumahan

Latar Belakang

Rumah dalam bentuk apapun tergantung dari tempat keberadaannya. Sedang pengadaannya tergantung dari penduduk bagaimana yang hendak dilayani. Aspek penduduk ternyata tidak mudah dan sederhana untuk dapat difahami dengan baik, utamanya bila terkait dengan upaya mengadakan perumahan yang layak. Khusus bagi perumahan di kota, ada beberapa unsur tambahan yang berpengaruh. Satu unsur yang positif adalah perkembangan penduduk kota yang melambat seperti disajikan pada tabel di bawah.

Gambaran penduduk kota yang berkembang lambat seperti disajikan tabel di atas harus dibaca dengan catatan khusus, yaitu bahwa pengadaan rumah bagi penduduk sebuah kota tidak mutlak tergantung dan harus berada di kota bersangkutan atau sebaliknya. Ternyata bahwa lebih dari separo penduduk di perumahan formal maupun kampung pinggiran sebelah luar perbatasan kota, berasal dari dan masih bekerja di Surabaya. Atau dengan kata lain penduduk Surabaya tidak mutlak harus bertempat tinggal di kota Surabaya. Hipotesa ini secara dahsyat dibuktikan oleh sekitar 20 new towns yang berkembang di sekitar bagian luar batas administratif Jakarta. Kota baru ini mengaglomerasi menjadi tiga kota baru dengan penduduk lebih dari satu juta orang (Tangerang, Depok dan Bekasi) dalam kurun waktu tidak lebih dari limabelas tahun dan membenarkan hopitesis di atas. Sebab sebagian terbesar warga kota-kota ini berasal dan bekerja di Jakarta.

Pemahaman lain dari perubahan makna perumahan adalah kenyataan bahwa masih sekitar 90% perumahan yang ada dibuat atau diadakan sendiri oleh penghuni/pemiliknya dengan berbagai cara. Artinya ada keragaman yang luas dari wujud rumah sesuai dengan ego dari pemilik/penghuninya. Juga kini rumah tidak lagi difahami terbatas sebagai tempat berkeluarga (omah-omah), tetapi menjadi tabungan dengan harapan nilainya meningkat serta sebagai sarana untuk melakukan usaha ekonomi dalam arti luas. Unsur ekonomi ini yang ikut menentukan apakah rumah dan perumahan sudah urbanized dan globalized atau belum. Tentunya bagi rakyat biasa aspek urbanized dan globalized ini dapat dilakukan secara komunal, tidak secara individual seperti yang sudah dinikmati kelompok penduduk berpenghasilan menengah ke atas.

Aspek terakhir yang dominan mempengaruhi perumahan masa kini adalah keberlanjutannya (sustainability). Aspek ini nampak sederhana namun adalah sebuah konsep yang rumit. Rumah yang berkelanjutan harus memenuhi lima syarat dasar yang dinikmati oleh penghuni saat ini serta yang akan datang, yaitu:

  • Mendukung peningkatan mutu produktivitas kehidupan penghuni baik secara sosial, ekonomi dan politik. Artinya setiap anggota penghuni terinspirasi untuk melakukan tugasnya lebih baik.
  • Tidak menimbulkan gangguan lingkungan dalam bentuk apapun sejak pembangunan, pemanfaatan dan kelak bila harus dimusnahkan. Ukuran yang dipakai terhadap gangguan yang terjadi terhadap lingkungan adalah efektivitas konsumsi energi.
  • Mendukung peningkatan mobilitas kesejahteraan penghuninya secara fisik dan spiritual. Berarti penghuni mengalami terus peningkatan mutu kehidupan fisik dan non-fisik.
  • Menjaga keseimbangan antara perkembangan fisik rumah dengan mobilitas sosial-ekonomi penghuninya. Pada awalnya keadaan fisik rumah lebih tinggi dari keadaan non—fisik, namun ini berbalik setelah penghuni mapan di rumah tersebut. (lihat lampiran).
  • Membuka peran penghuni/pemilik yang besar dalam pengambilan keputusan terhadap proses pengembangan rumah (lihat diagram proses perkembangan rumah pada lampiran) dan Rukun Warga tempat ia berinteraksi dengan tetangga.