Rumah Idaman

Sebuah hunian bisa disebut “smart home” jika seluruh bangunan dikonsep dan direncanakan secara terpadu. Selain indah, konsep hunian dengan predikat smart home juga sehat sekaligus nyaman bagi penghuninya.

Ternyata banyak rumah tinggal di Kota Medan hanya menampilkan kemegahan dan keindahan gaya bangunan, namun mengenyampingkan kenyamanan sekaligus kesehatan bagi penghuninya. Padahal, untuk mendapatkan sebuah “rumah pintar” yang indah sekaligus nyaman tidaklah terlalu sulit.

Memang, untuk membangun sebuah hunian yang betul-betul “smart”, diperlukan sentuhan seorang arsitek maupun interior desainer agar seluruh detil bangunan maupun interiornya betul-betul maksimal, sehingga tidak ada ruang maupun bahan material yang mubajir.

Lewat tangan arsitek dan interior desainer pula, sebuah rumah tinggal menjadi semacam “istana” karena semua ruangan dibangun sekaligus ditata dengan apik dan proporsional sesuai kebutuhan, sehingga penghuni selalu merasa sejuk dan nyaman ketika berada di rumahnya.

“Sebuah rumah dikatakan ‘smart home’ jika penghuninya merasa nyaman ketika berada di dalamnya, sekaligus bisa melakukan interaksi yang baik antara satu ruang dengan ruang lainnya,” kata Ir Sumarsono Ongko, salah seorang arsitek sekaligus desainer interior di Kota Medan.

Berdasarkan penuturan arsitek muda ini, sudah sepatutnya rumah yang diciptakan itu merupakan suatu bangunan yang betul-betul layak untuk dijadikan tempat tinggal, dalam kaitan fungsionalitas suatu bangunan rumah, sehingga orang yang berada di dalamnya bisa menikmati suatu ketenangan setelah melewati aktivitas sehari-hari.

Dengan kata lain, si pemilik harus benar-benar merasa “homy” ketika pulang ke rumahnya. Jadi, rumah yang dibangun itu harus berfungsi sebagai suatu wadah yang memberikan rasa nyaman sekaligus tenang untuk dijadikan sebuah tempat tinggal. Bukan hanya sebuah bangunan tempat tinggal belaka.
Untuk itulah seorang arsitek maupun interior desainer diperlukan agar dapat tercipta suatu rumah yang lebih menekankan kepada fungsi utamanya, yakni sebagai tempat tinggal yang sehat. Di mana si penghuni bisa merasa nyaman, berinteraksi dan hidup sehat di setiap ruang yang ada di rumah itu.

Meski model ataupun gaya juga sangat menentukan keindahan keindahan suatu rumah, namun yang paling penting lagi ketika akan membangun sebuah rumah tinggal adalah konsep dari pada bangunan rumah itu sendiri. Dengan demikian, bisa dibilang model yang megah dan mewah itu tak lebih hanya merupakan penampilan pisik bangunan tersebut.

Sebagai contoh yang lebih sederhana, pakaian yang begitu indah dan mewah, tidak serta merta menjadi pakaian yang nyaman. Bisa jadi dengan begitu banyak pernak pernik dan jenis bahan yang dipergunakan malah akan menimbulkan ketidak nyamanan pemakainnya.

Smart Home sendiri merupakan sebuah konsep hunian yang sangat memperhatikan segala detil dan ruang yang ada. Selain itu, rumah “bijak” ini juga selalu mengutamakan peran pencahayaan maupun sirkulasi udara natural agar hunian yang dibangun itu bisa menjadi tempat tinggal yang sehat sekaligus menyenangkan bagi si penghuni dengan pemakaian energi buatan seminimal mungkin.

“Dalam membangun sebuah gedung ataupun tempat tinggal, seorang arsitek harus lebih memperhatikan efektifitas fungsi dari bangunan yang dibuat. Bangunan tersebut harus nyaman, baik secara pandangan maupun perasaaan. Baru kemudian penampilan luarnya,” kata arsitek jebolan Universitas Katolik Parahyangan, Bandung ini.

Hal penting lainnya untuk membuat sebuah hunian yang membuat seorang bisa nyaman di dalamnya adalah “kembali ke alam”. Artinya, apa yang ada sebelumnya di alam harus bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin terlebih dahulu. Jika tidak ada, baru dibentuk dari energi buatan.

“Contohnya pencahayaan dan udara. Bila bisa diatur dengan baik, tidak diperlukan lampu-lampu maupun pengatur udara di dalam suatu ruangan,” imbuhnya.

Karena itu, pencahayaan harus selalu diperhatikan, begitu pula ventilasi udara juga harus menjadi perhatian utama ketika membangun sebuah rumah agar sirkulasi udara lancar. Bila semua itu diperhatikan, otomatis rumah yang dibangun akan menjadi hunian yang indah, sehat, nyaman alias “smart home”.

“Masalah pencahayaan ini banyak terlewatkan ketika sebuah bangunan dibuat. Lampu jangan hanya sebagai unsur penerangan tapi juga harus menunjang estetika hunian. Ini yang kita namakan smart lighting,” tutur Sumarsono.

Karenanya, arsitek yang baik harus dibarengi dengan kemampuan menata interior yang baik pula. Sebab, penempatan perabotan dan asesoris yang tidak tepat akan mempengaruhi ruang gerak, pencahayaan dan sirkulasi udara.

Hal lain yang perlu diperhatikan, hunian yang dibangun harus efisien dan efektif dalam penggunaan bahan dan ruang. “Sebuah bangunan bisa berfungsi sebagai ‘smart home’ bila telah memenuhi unsur-unsur tersebut, yakni pencahayaan yang baik, sirkulasi cukup, pemakaian bahan tidak mubasir namun dengan style yang tidak ketinggalan,” kata arsitek yang ikut menangani konstruksi salah satu restoran Jepang terbaik di Medan ini.

Di Medan sendiri, kata Soemarsono, model dan gaya hunian masih didominasi gaya mediterania dan klasik. Selain itu, konsumen di Medan umumnya dalam hal gaya dan arsitektur bangunan lebih cenderung mencontoh negara Asia yang maju seperti Singapura dan Hongkong, maupun Jakarta sebagai ibukota negara.

Arsitek Harus Pandai Menempatkan Skala Prioritas
Apapun style bangunan tempat tinggal tidak terlalu berpengaruh dalam hal kenyamanan, karena yang paling penting adalah fungsi sebagai rumah tinggal. Banyak orang bikin rumah sangat kolosal namun tidak nyaman untuk ditempati. “Seorang arsitek harus pandai menempatkan skala prioritas,” kata Ir Sumarsono kepada Global.

Menurut Sumarsono, arsitek harus punya skala prioritas untuk membuat sebuah bangunan megah atau nyaman, agar rumah yang dibangun itu juga memiliki karkater. Satu hal yang perlu diketahui, seorang arsitek dibayar sebagai konseptor bukan sebagai plagiator ketika diminta untuk merancang suatu bangunan.

Konsep itu sendiri bisa didapatkan dari referensi dan berbagai sumber lainnya, tapi bukan penjiplakan murni. Sebab, desain selalu berkembang dari yang lama ke yang lebih baru. Karena itu, seorang arsitek maupun disainer harus selalu belajar dan mencari referensi dari penciptaan yang sudah ada untuk dikembangkan dan dimaksimalkan menjadi sesuatu yang baru.

Menurutnya lagi, seorang arsitek sangat berbeda dengan interior disainer. Karya arsitek mestinya lebih awal lagi karena karena merupakan wadah terlebih dahulu, baru kemudian pengisian ke dalam ruang yang dilakukan interior disainer. “Interior disainer adalah ilmu estetika. Ada batasan yang jelas antara arsitek dengan seorang disainer, tetapi ada juga arsitek yang menguasai interior,” tandasnya.

Namun demikian, pada dasarnya arsitek juga harus menguasai interior, baik secara penuh maupun hanya mendasar. Seorang arsitek harus dapat membayangkan bagaimana isi ruang yang ia konsep. Membangun sebuah gedung yang baik, harus ada konsep semacam ciri dasar bangunan itu lewat perencanaan terpadu.

Jadi, tambahnya, konsep sangat berbeda dengan style atau gaya. Contohnya konsep minimalis yang meminimalkan bahan, warna maupun lainnya. “Sementara gaya itu lebih ke arah penampilan, misalnya cara berpakaian seseorang,” tutur arsitek yang juga akan menangani rancang bangun salah satu klinik dermatologi terbesar di Jakarta ini.

Sementara konsep minimalis itu sendiri merupakan suatu konsep yang sangat meminimalkan bahan serta tidak banyak menggunakan asesoris dan lebih cenderung kontemporer (modern). Desainnya lebih modern dan lebih praktis, yang terdiri dari bidang/bentuk-bentuk geometris atau penggabungan daripada bentuk dasar geometris.

Konsep minimalis secara murni sangat susah dipertahankan di negara kita, terutama di Medan. “Saya belum pernah melihat ada gaya pure minimalis di Medan karena terbentur dengan nilai budaya di negara kita,” kata Ir Sumarsono Ongko seorang arsitek sekaligus desainer muda Medan
Seiring perkembangan jaman, belakangan ini juga tengah berkembang suatu gaya yang disebut Eklitis, di mana konsep ini menggabungkan gaya modern kontemporer dengan klasik. Dengan kata lain, gaya eklitis ini merupakan pencampuran dari berbagai gaya.

Menyinggung profesionalitas arsitek, Sumarsono dengan tegas mengatakan, seorang arsitek dibayar untuk menciptakan suatu konsep rumah yang sesuai dengan karakter si pemilik. Karenanya, perlu suatu pendekatan sehingga diketahui apa kesenangan dan kemauan si pemilik dalam membangun rumah.

“Namun demikian, jangan sampai arsitek dibayar untuk menjadi plagiat. Artinya, seorang arsitek seharusnya tidak menggadaikan kreativitasnya dengan mencomot bulat-bulat suatu karya arsitektur yang sudah ada sebelumnya,” tandasnya.

Diakui Sumarsono, perkembangan arsitektur di Medan 5 tahun belakangan ini berkembang pesat. Ke depan tentu akan lebih maju lagi karena SDM arsitek makin banyak dan baik, sehingga otomatis konsep yang ditawarkan juga makin beragam.

sumber: http://www.harian-global.com